|
Evolusi: Inspirasi bagi
Komunisme HARUN YAHYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Evolusi: Inspirasi bagi Marx dan Engels Filsafat Materialisme, yang lahir di Yunani Kuno, memperoleh kemenangan di abad ke-19. Filsafat kuno ini meraih keberhasilannya melalui dua tokoh filsuf Jerman, Karl Marx dan Friedrich Engels. Marx dan Engels berusaha menjelaskan filsafat materialis, yang bertahan hidup selama berabad-abad, dengan penjelasan baru bernama “dialektika”. Secara singkat, dialektika beranggapan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling bertentangan. Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah dunia. Analisis sederhana oleh Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan didasarkan pada konflik, dan konflik yang ada saat ini adalah antara kaum buruh dan masyarakat kelas atas. Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan satu-satunya adalah agar mereka bersatu dan melakukan revolusi. Marx
dan Engels memiliki kebencian mendalam terhadap agama. Sebagai ateis tulen,
mereka menegaskan bahwa penghapusan agama adalah perlu demi keberhasilan
Komunisme. Saat Marx dan Engels sedang merumuskan pandangannya, muncul
perkembangan penting yang dapat memberikan dukungan bagi teori mereka. Engels
membaca buku “(Buku)
Karl Marx menjawab: “Ini adalah buku yang berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi pandangan kita.” Engels
sangat terpengaruh oleh teori Buah Komunisme di Uni Sovyet Pandangan Karl Marx dan Engels tumbuh dan berkembang subur, khususnya setelah kematian mereka. Vladimir Ilyich Lenin adalah yang pertama menerapkan revolusi komunis sebagaimana dicita-citakan Karl Marx. Lenin adalah pemimpin pergerakan komunis Bolshevik di Rusia. Saat itu, rejim Tsar diperintah oleh dinasti Romanov. Kaum Bolshevik di bawah pimpinan Lenin sedang menunggu kesempatan untuk menumbangkan rejim Tsar dengan kekuatan. Kekacauan akibat Perang Dunia Pertama memunculkan peluang yang ditunggu-tunggu kaum Bolshevik. Di bulan Oktober 1917, mereka berhasil mengambil alih kekuasaan. Setelah revolusi, Rusia menjadi ajang perang saudara berdarah antara kaum komunis melawan para pendukung Tsar. Siapapun yang dianggap musuh oleh kaum komunis, termasuk keluarga Romanov, dibunuh secara sadis. Sebagaimana
gurunya, yakni Karl Marx dan Engels, Lenin pun seorang evolusionis tulen, dan
seringkali menegaskan bahwa teori Trotsky
adalah nama penting kedua dalam revolusi Bolshevik. Ia juga sangat menekankan
pentingnya Darwinisme, dan menyatakan dukungannya kepada "Penemuan Darwin adalah kemenangan tertinggi dialektika di seluruh alam kehidupan." Joseph
Stalin, sang diktator Partai Komunis paling kejam, menggantikan Lenin pada
tahun 1924. Menengok tiga puluh tahun pemerintahan teror Stalin, siapapun
hampir pasti akan berkata bahwa kebijakan Stalin secara umum adalah untuk
membuktikan kekejaman komunisme. Stalin
mengirim ribuan para penentang kebijakannya ke kamp kerja paksa di Akibat
kebijakan berdarah Stalin, sekitar tiga puluh juta orang mati terbunuh.
Menurut para ahli sejarah, Stalin merasakan kenikmatan tersendiri dari
kekejaman ini. Di kantornya di Selain
karena kondisi kejiwaannya, yang menjadikan Stalin pembunuh masal kejam
adalah keyakinan kuatnya pada filsafat materialis. Dan dasar berpijak
filsafat ini, dalam pengertian Stalin, adalah teori evolusi "Tiga
hal yang kita lakukan agar tidak melecehkan akal para pelajar seminari kita.
Kita harus mengajarkan mereka usia bumi, asal-usul bumi, dan ajaran-ajaran Satu
lagi yang menunjukkan keyakinan buta Stalin pada teori evolusi adalah
penolakan hukum genetika Mendel oleh sistem pendidikan Soviet. Sejak awal
abad ke-20, hukum Mendel telah diterima oleh kalangan ilmuwan – kecuali di
Uni Soviet. Penemuan ini menggugurkan klaim Lamarck, yang sebagiannya juga
diyakini Evolusi dan Komunisme Cina Selama
pemerintahan totaliter Stalin, rejim komunis lainnya yang berlandaskan
Darwinisme didirikan di Cina. Pada tahun 1949, setelah perang saudara yang
panjang, kaum komunis memenangkan kekuasaan di bawah pimpinan Mao Tse Tung.
Mao mendirikan rezim penindas dan berdarah, sebagaimana sekutunya Stalin yang
memberinya banyak dukungan. Hukuman mati yang tak terhitung jumlahnya terjadi
di
Komunisme telah menyebabkan teror, perang gerilya dan perang saudara di banyak negara. Di Kamboja, Khmer merah komunis membantai hampir sepertiga dari penduduk negeri. Manusia dibunuh hanya karena mengambil sedikit makanan dari lahan pertanian kolektif atau mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan komunisme. Bukti-bukti pembantaian Kamboja menampakkan kebiadaban komunisme tanpa perlu dijelaskan lagi. Selama
seratus Kesimpulan Darwinisme
muncul seratus Penyebab sesungguhnya dari semua ini adalah keingkaran manusia terhadap Pencipta mereka sendiri. Masyarakat yang berpaling dari Allah, dan terpedaya oleh dogma seperti materialisme, menjadi rentan terhadap segala bentuk kerusakan. Akibatnya, mereka menderita kesengsaraan, ketakutan dan kebinasaan. Allah menyatakan hal ini dalam firman-Nya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum, 30:41) Kedamaian, keadilan dan ketentraman akan terwujud hanya jika Darwinisme dan materialisme diungkap kepada dunia sebagai kebohongan sebagaimana wajah asli mereka, dan ketika manusia mengetahui tujuan penciptaannya, yaitu mengabdi kepada Penciptanya, mengabdi kepada Allah. |