SATU ISLAM? SATU INDONESIA ? SATU
ILUSI!
oleh Farid Gaban
"Hanya dengan persatuan umat Islam bisa berjaya kembali," begitulah kata khatib khutbah Jumat yang sering kita dengar. Sebuah organisasi Islam, Majelis Mujahidin, belum lama ini meminta stasiun televisi menarik iklan layanan masyarakat bertemakan "Islam Warna-Warni" yang dianggap melecehkan. "Islam itu satu, tidak berwarna."
"Persatuan dan kesatuan adalah modal utama kemerdekaan
Persatuan! Sayangnya, persatuan adalah kata yang problematis, baik dalam agama maupun nasionalisme.
"Satu Islam" adalah ilusi. Sejarah Islam menyaksikan betapa perbedaan menafsirkan Islam sudah berlangsung hanya sebentar setelah Rasulallah Muhammad wafat. Silang-sengketa bahkan sempat menumpahkan darah. Tiga dari empat khalifah pertama tewas terbunuh.
Dan berabad kemudian, bersama menyebarnya Islam ke berbagai pelosok dunia,
kita menyaksikan Islam yang demikian beragam.
Bagi orang Muhammadiyah, hanya ada "satu Islam" seperti yang dipahaminya. Demikian pula bagi kaum Nahdlyin. Bagi orang Iran, Shiah adalah "Islam yang satu" seperti bagi orang Malaysia Sunni itu "Islam yang satu" pula. Islam tidak unik dalam keragamannya. Semua agama --Yahudi, Kristen, Buddha dan Hindu-- mengenalnya. Tidak unik pula bahwa, dibaurkan oleh kepentingan politik, ekonomi dan identitas budaya, masing-masing pecahan agama saling bersaing untuk merebut pengaruh. Minus perang dan persengketaannya yang berdarah, keragaman mazhab dalam satu agama itu adalah keindahan sekaligus keniscayaan.
Islam, seperti ditunjukkan oleh sejarahnya, adalah berwarna. Bukan berarti masing-masing mazhab dan aliran tak bisa bekerjasama atau "bersatu". Tapi, itu hanya mungkin dipahami lewat kesediaan untuk menerima ambiguitas manusia: "Kita mempercayai sesuatu yang mutlak, tapi mentoleransi kemungkinan orang lain mempercayai kemutlakan berbeda."
Menerima kemutlakan sekaligus mengakui relativitas adalah keniscayaan orang dalam beragama seraya bisa hidup berdamai dengan manusia lain.
Memaksakan "satu Islam" kepada semua penganut Islam, sebaliknya, tentulah menyalahi watak toleransi Islam. Obsesi seseorang atau suatu kelompok terhadap yang "satu" hanya mungkin dilakukan lewat pemaksaan, seringkali lewat kekuasaan senjata, dan itu menyalahi konsepsi Islam yang dasar, bahwa "tidak ada paksaan dalam agama".
Islam juga tidak unik dalam sejarahnya yang seringkali diwarnai darah. Gereja Katolik dan kaum Protestan telah memanfaatkan kolonialisme-penindasan ekonomi, politik dan senjata-untuk menyatukan umat manusia di bawah Kristus yang satu. "Persatuan" yang bersifat menindas bahkan berlaku hampir dalam semua ideologi, termasuk komunisme dan nasionalisme.
"Satu
Negeri kita memang mengenal konsep "Bhinneka Tunggal Ika" atau "berbeda-beda tapi satu". Tapi dalam berbagai zaman, kita cenderung memakai "ika" untuk memberangus "kebhinnekaan"; keseragaman untuk membunuh beragam aspirasi politik dan budaya.
Seperti dalam agama, penyeragaman interpretasi terhadap ideologi negara hanya dimungkinkan lewat pemaksaan, penahanan, pembunuhan, dan penindasan budaya.
Pada 1960-an kita memaksa orang-orang keturunan Tionghoa, misalnya, untuk mengganti nama mereka dengan nama Jawa, Sunda atau Batak serta melikuidasi budaya dan keyakinannnya demi "persatuan". Melihat kerusuhan Mei 1998, ketika Orde Baru rontok, kita baru menyadari bahwa pembauran seperti itu hanya bersifat permukaan dan bahwa perbedaan tetap berakar jauh di alam bawah sadar.
Persatuan memang diperlukan, terutama ketika negeri menghadapi krisis. Tapi, persatuan hakiki hanya mungkin berlangsung jika masing-masing pihak mengakui perbedaan seraya menyadari pentingnya bekerja sama untuk mewujudkan kepentingan bersama. Itulah pula esensi dari persatuan yang muncul dalam Sumpah Pemuda 1928. Persatuan bukanlah peleburan.
Jika kita berpendapat bahwa persatuan dalam makna peleburan merupakan kunci
kemerdekaan
Pada waktu itu, Soekarno yang terobsesi oleh persatuan menginginkan
partai-partai politik bergabung dalam wadah tunggal Permufakatan Pehimpunan
Politik Kebangsaan
Konsep kemerdekaan
Orang memang cenderung melihat perbedaan sebagai perpecahan. Keliru.
Ekosistem yang kuat di alam dipelihara oleh kebhinnekaan
"spesies"-nya. Makin beragam spesies di dalamnya, makin stabil
ekosistem itu. Hutan tropis
"Bhinneka Tunggal Ika" hanya akan menjadi konsep yang efektif
lewat toleransi atas perbedaan, bukan peleburan. Itu tidak hanya berlaku untuk
Islam, tapi juga untuk